Publikasi jurnal ilmiah bukan lagi hanya urusan dosen atau peneliti senior. Mahasiswa S1, S2, bahkan penulis umum kini semakin banyak yang ingin tahu cara publikasi jurnal — baik untuk memenuhi syarat kelulusan, meningkatkan karier akademik, maupun sekadar berbagi hasil riset kepada khalayak lebih luas.
Sayangnya, banyak yang merasa proses publikasi jurnal itu rumit, mahal, dan penuh istilah teknis yang membingungkan. Padahal, jika kamu tahu langkah-langkahnya, proses ini jauh lebih mudah dari yang dibayangkan.
Artikel ini akan membahas secara lengkap: apa itu publikasi jurnal, jenis-jenis jurnal, syarat yang harus dipenuhi, langkah submit, biaya yang perlu disiapkan, hingga tips agar artikel kamu cepat diterima. Yuk, simak sampai selesai!
Table of Contents
TogglePublikasi jurnal adalah proses menerbitkan artikel atau karya ilmiah di sebuah jurnal akademik yang telah diakui. Berbeda dengan posting blog biasa, artikel yang dipublikasikan di jurnal harus melalui proses seleksi ketat yang disebut peer review — yaitu penilaian oleh para ahli di bidang yang sama.
Banyak yang menyebut proses ini dengan istilah “publish jurnal”, namun dalam dunia akademik Indonesia, istilah baku yang lebih sering digunakan adalah publikasi jurnal atau publikasi jurnal ilmiah.
Sebelum melanjutkan, penting untuk memahami tiga istilah yang sering tertukar:
Sebelum memutuskan di mana akan melakukan publikasi jurnal, kenali dulu jenis-jenis jurnal yang ada.
Sinta (Science and Technology Index) adalah sistem indeksasi jurnal ilmiah yang dikelola oleh Kemdikbudristek Indonesia. Jurnal Sinta terbagi dalam 6 tingkatan, dari Sinta 1 (tertinggi) hingga Sinta 6. Semakin tinggi peringkat Sinta, semakin bergengsi dan ketat proses seleksinya.
Jurnal nasional cocok untuk pemula karena proses review lebih mudah dipahami dan komunikasi dengan editor lebih mudah karena berbahasa Indonesia.
Jurnal internasional bereputasi umumnya terindeks di database global seperti Scopus atau Web of Science (WoS). Publikasi di sini membawa nilai akademik yang sangat tinggi, terutama untuk dosen dan peneliti.
Proses seleksinya lebih ketat dan biasanya berbahasa Inggris. Namun untuk dosen dengan target jabatan Guru Besar, publikasi di jurnal Scopus adalah keharusan.
Jurnal Open Access berarti artikel yang diterbitkan dapat diakses gratis oleh siapa saja. Beberapa jurnal OA tidak memungut biaya sama sekali, sementara yang lain menerapkan Article Processing Charge (APC) kepada penulis.
Jurnal predator adalah jurnal abal-abal yang menerima artikel tanpa peer review yang benar, hanya demi mendapatkan bayaran dari penulis. Ciri-cirinya:
Selalu cek status jurnal melalui situs resmi Sinta (sinta.kemdikbud.go.id) atau Scimago Journal Rank (SJR) sebelum submit artikel.
Setiap jurnal memiliki panduan penulisan (author guidelines) yang berbeda-beda. Namun secara umum, berikut syarat yang hampir selalu berlaku:
Berikut adalah panduan lengkap cara publikasi jurnal ilmiah dari awal hingga artikel kamu resmi terbit:
Mulai dengan menentukan topik penelitian yang jelas, melakukan studi literatur yang memadai, dan menyusun artikel dengan struktur yang benar. Pastikan kontribusi ilmiah artikel kamu terlihat jelas — apa yang baru atau berbeda dari penelitian sebelumnya.
Pilih jurnal yang scope (ruang lingkup)-nya sesuai dengan topik artikelmu. Jangan asal pilih jurnal bergengsi jika topiknya tidak relevan. Baca beberapa artikel yang sudah terbit di jurnal tersebut untuk memastikan kesesuaian.
Unduh template resmi dari website jurnal dan sesuaikan seluruh format naskahmu: ukuran font, margin, jumlah kata abstrak, jumlah referensi minimum, dan lain-lain. Kesalahan format adalah alasan umum artikel langsung ditolak tanpa review.
Sebagian besar jurnal menggunakan sistem manajemen jurnal online seperti OJS (Open Journal Systems). Daftarkan diri sebagai penulis, lalu ikuti prosedur submit yang ada di sistem tersebut. Biasanya kamu perlu mengunggah file naskah, cover letter, dan data penulis.
Setelah submit, editor akan memeriksa kelengkapan naskah (desk review). Jika lolos, artikel akan dikirim ke 2–3 reviewer yang ahli di bidang tersebut. Proses ini bisa memakan waktu 2 minggu hingga beberapa bulan, tergantung jurnal.
Ada empat kemungkinan hasil review: (1) Accept as is, (2) Minor revision, (3) Major revision, atau (4) Reject. Jika diminta revisi, tanggapi semua komentar reviewer secara profesional dan sistematis. Sertakan response letter yang menjelaskan perubahan yang kamu buat.
Setelah revisi disetujui, jurnal akan melakukan proofreading akhir dan menetapkan DOI (Digital Object Identifier) untuk artikelmu. Artikel kemudian masuk ke tahap “in press” atau langsung diterbitkan di edisi tertentu. Selamat, kamu resmi telah melakukan publikasi jurnal!
Salah satu pertanyaan yang paling sering muncul adalah soal biaya publikasi jurnal. Jawabannya: tergantung jenis jurnalnya.
| Jenis Jurnal | Estimasi Biaya |
|---|---|
| Jurnal Nasional Sinta (gratis) | Rp 0 – Rp 500.000 |
| Jurnal Nasional Sinta (berbayar) | Rp 500.000 – Rp 2.000.000 |
| Jurnal Internasional Open Access (APC) | USD 500 – USD 3.000+ |
| Jurnal Internasional Berlangganan | Gratis untuk penulis |
Tips: Banyak institusi perguruan tinggi dan lembaga riset yang menyediakan dana hibah untuk membiayai publikasi jurnal internasional. Tanyakan ke bagian LPPM kampusmu.
Publikasi jurnal ilmiah memang membutuhkan proses, tapi bukan sesuatu yang mustahil dilakukan — bahkan bagi pemula sekalipun. Kunci utamanya adalah: pilih jurnal yang tepat, tulis naskah yang berkualitas, dan ikuti proses dengan sabar.
Mulai dari jurnal nasional terindeks Sinta jika kamu baru pertama kali, lalu tingkatkan ke jurnal internasional seiring bertambahnya pengalaman. Yang terpenting, jangan takut untuk mencoba!
Punya pertanyaan soal cara publikasi jurnal atau pengalaman submit yang ingin dibagikan? Tulis di kolom komentar di bawah ya