“Sudah susah nulis, eh masih harus bayar lagi.” Keluhan ini sangat umum di kalangan peneliti Indonesia. Tapi kenyataannya, biaya publikasi jurnal memang ada — dan nilainya bisa sangat bervariasi, dari gratis hingga puluhan juta rupiah per artikel.
Artikel ini membahas secara jujur dan realistis berapa biaya publikasi jurnal Sinta dan Scopus di tahun 2026, faktor-faktor yang mempengaruhinya, dan yang terpenting: bagaimana cara mendapatkan dana hibah agar kamu tidak perlu mengeluarkan uang pribadi.
Baca juga: Cara Publikasi Jurnal Ilmiah Untuk Mahasiswa dan Dosen Terbaru
Table of Contents
ToggleTidak semua jurnal memungut biaya, tapi banyak yang melakukannya. Biaya ini biasanya disebut APC (Article Processing Charge) dan digunakan untuk menutupi biaya operasional jurnal: proses editorial, layout, hosting website, DOI, dan lain-lain.
Ada dua model jurnal berdasarkan biaya:
Biaya publikasi jurnal Sinta sangat bervariasi tergantung peringkat dan kebijakan masing-masing jurnal. Berikut estimasi terbaru 2026:
| Peringkat Sinta | Estimasi Biaya | Catatan |
|---|---|---|
| Sinta 1 | Rp 2.000.000 – Rp 7.500.000 | Banyak yang sudah Scopus, biaya lebih tinggi |
| Sinta 2 | Rp 1.500.000 – Rp 5.000.000 | Bervariasi; beberapa masih gratis |
| Sinta 3 | Rp 500.000 – Rp 2.000.000 | Kisaran moderat |
| Sinta 4 | Rp 300.000 – Rp 1.000.000 | Lebih terjangkau |
| Sinta 5 & 6 | Gratis – Rp 500.000 | Banyak yang gratis, cocok untuk pemula |
Penting: Banyak jurnal Sinta yang tidak memungut biaya sama sekali. Namun proses reviewnya lebih ketat dan waktu tunggunya lebih lama (3–6 bulan atau lebih).
Biaya jurnal Scopus jauh lebih tinggi dibanding Sinta, terutama untuk jurnal Open Access. Berikut estimasi berdasarkan pengalaman peneliti Indonesia:
| Kuartil | Estimasi Biaya (APC) | Contoh Range |
|---|---|---|
| Q1 (bergengsi tinggi) | USD 1.500 – USD 5.000+ | Rp 24 juta – Rp 80 juta+ |
| Q2 | USD 500 – USD 2.000 | Rp 8 juta – Rp 32 juta |
| Q3 | USD 300 – USD 1.500 | Rp 5 juta – Rp 24 juta |
| Q4 | USD 150 – USD 800 | Rp 2,5 juta – Rp 13 juta |
| Subscription-based | Gratis untuk penulis | Seleksi sangat ketat |
Beberapa jurnal Scopus yang dikelola institusi Indonesia (Sinta 1) juga terindeks Scopus dengan biaya yang lebih terjangkau dibanding publisher internasional.
Kabar baiknya: kamu tidak harus membayar dari kantong pribadi. Ada beberapa sumber dana yang bisa dimanfaatkan:
Hampir semua universitas negeri dan swasta di Indonesia memiliki Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) yang mengalokasikan dana untuk mendukung publikasi dosen dan mahasiswa. Tanyakan ke LPPM kampusmu tentang program dana publikasi yang tersedia.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyediakan berbagai skema hibah penelitian yang mencakup biaya publikasi. Pantau portal riset nasional di brin.go.id untuk informasi skema hibah terbaru.
Program Penelitian Dasar, Penelitian Terapan, dan skema lainnya dari Kemendikbudristek sering memasukkan komponen biaya publikasi dalam anggaran penelitian. Pantau laman simlitabmas.kemdikbud.go.id.
Banyak penerbit internasional (Elsevier, Springer, MDPI, dll.) menawarkan APC waiver — pembebasan atau pengurangan biaya — untuk peneliti dari negara berkembang termasuk Indonesia. Cek kebijakan waiver di website jurnal yang kamu tuju sebelum menganggap biayanya tidak terjangkau.
Jika penelitianmu didanai oleh beasiswa atau grant internasional (Fulbright, LPDP, British Council, dll.), biasanya ada komponen yang bisa digunakan untuk biaya publikasi. Cek ketentuan grant-mu.
Bagi mahasiswa, berkolaborasi dengan dosen pembimbing yang memiliki dana penelitian aktif adalah cara termudah mendapat dukungan biaya publikasi.
Tidak. Banyak jurnal Sinta berkualitas tinggi yang tidak memungut biaya. Bahkan beberapa jurnal Sinta 1 tidak membebankan APC — proses seleksinya justru lebih ketat karena tidak bergantung pada pendapatan dari penulis.
Boleh, selama jasa tersebut tidak melanggar etika akademik. Layanan yang membantu penyesuaian template, proofreading, atau pendampingan proses submit adalah legal. Yang tidak etis adalah jasa yang menjamin penerimaan artikel tanpa proses review yang sebenarnya.
Rata-rata USD 500 – USD 2.000, atau sekitar Rp 8 juta – Rp 32 juta tergantung penerbit dan kebijakan jurnal. Selalu cek halaman APC jurnal sebelum submit untuk angka yang paling akurat.
Biaya publikasi jurnal memang nyata, tapi bukan halangan yang tidak bisa diatasi. Dengan memanfaatkan dana hibah, APC waiver, dan kolaborasi yang tepat, kamu bisa mempublikasikan penelitian di jurnal bereputasi tanpa harus mengeluarkan banyak uang pribadi.
Rencanakan publikasimu sejak awal penelitian — termasuk anggarannya — agar prosesnya berjalan lebih lancar.
Baca juga: Cara Publikasi Jurnal Ilmiah Untuk Mahasiswa dan Dosen Terbaru| Perbedaan Jurnal Sinta dan Scopus | Cara Submit Artikel ke OJS