Sinta atau Scopus? Pertanyaan ini hampir pasti muncul setiap kali seseorang — mahasiswa, dosen, maupun peneliti — mulai serius merencanakan publikasi jurnal ilmiah. Keduanya sering disebut berdampingan, tapi sebenarnya sangat berbeda dari segi skala, standar, dan tujuan penggunaannya.
Artikel ini menjelaskan secara tuntas perbedaan jurnal Sinta dan Scopus, mulai dari pengertian, tingkatan, bahasa yang digunakan, tingkat kesulitan, biaya, hingga panduan praktis memilih yang sesuai dengan kebutuhanmu.
Baca juga: Cara Publikasi Jurnal Ilmiah Untuk Mahasiswa dan Dosen Terbaru
Table of Contents
ToggleSinta adalah singkatan dari Science and Technology Index, sebuah portal pengindeksan jurnal ilmiah resmi yang dikelola oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek) Republik Indonesia.
Sinta berfungsi sebagai barometer kualitas jurnal nasional yang diterbitkan di dalam negeri. Jurnal bisa masuk ke Sinta jika sudah mendapatkan akreditasi dari ARJUNA (Akreditasi Jurnal Nasional), sistem akreditasi resmi yang menilai kualitas jurnal dari berbagai aspek: konsistensi penerbitan, proses peer review, tata kelola editorial, dan jumlah sitasi.
Akreditasi Sinta berlaku selama 5 tahun dan dapat diperbarui.
Sinta membagi jurnal ke dalam 6 peringkat, dari yang tertinggi hingga terendah:
Semakin kecil angkanya, semakin tinggi kualitas dan prestise jurnalnya.
Scopus adalah pangkalan data pustaka bereputasi internasional yang dikelola oleh Elsevier, salah satu penerbit ilmiah terbesar di dunia yang berbasis di Belanda. Scopus mengindeks lebih dari 22.000 judul jurnal dari lebih dari 5.000 penerbit di seluruh dunia.
Berbeda dengan Sinta yang berskala nasional, Scopus bersifat global. Jurnal yang terindeks Scopus berasal dari berbagai negara dan disiplin ilmu, dan menjadi rujukan peneliti di seluruh dunia. Publikasi di jurnal Scopus umumnya dianggap sebagai pencapaian besar dalam karier akademik.
Scopus tidak menggunakan sistem peringkat angka seperti Sinta. Sebagai gantinya, kualitas jurnal Scopus dinilai menggunakan sistem kuartil (Q) berdasarkan indikator SJR (Scimago Journal Rank) — rata-rata sitasi per artikel selama 3 tahun terakhir dalam bidang ilmu tertentu:
Kuartil dapat berbeda antar bidang ilmu — sebuah jurnal bisa Q1 di bidang A tapi Q2 di bidang B.
| Aspek | Sinta | Scopus |
|---|---|---|
| Pengelola | Kemdikbudristek RI | Elsevier (Belanda) |
| Skala | Nasional (Indonesia) | Internasional (global) |
| Sistem tingkatan | Sinta 1–6 | Kuartil Q1–Q4 |
| Akreditasi | ARJUNA (berlaku 5 tahun) | Seleksi komite Scopus |
| Bahasa artikel | Indonesia atau Inggris | Inggris (dominan) |
| Tingkat kesulitan | Sedang (lebih ramah pemula) | Tinggi (sangat kompetitif) |
| Biaya publikasi | Gratis s/d Rp 2 juta | USD 500 – USD 3.000+ |
| Jangkauan pembaca | Peneliti Indonesia | Peneliti seluruh dunia |
| Nilai untuk dosen | Angka kredit nasional | Angka kredit + reputasi global |
Perbedaan paling mendasar adalah skala pengakuannya. Sinta diakui di lingkup nasional Indonesia, sementara Scopus diakui secara internasional oleh komunitas akademik global. Untuk dosen yang menarget jabatan Guru Besar, publikasi di Scopus umumnya menjadi syarat wajib.
Jurnal Sinta umumnya menerima artikel dalam bahasa Indonesia, meskipun banyak juga yang menerima bahasa Inggris. Sementara itu, jurnal Scopus hampir seluruhnya menggunakan bahasa Inggris dengan standar akademik internasional. Ini menjadi salah satu tantangan terbesar bagi peneliti Indonesia yang ingin menembus Scopus.
Keduanya memiliki standar yang ketat, tapi berbeda levelnya. Sinta menilai jurnal berdasarkan akreditasi ARJUNA yang mencakup konsistensi penerbitan, tata kelola, dan sitasi nasional. Scopus memiliki standar yang jauh lebih tinggi: reputasi editorial, dampak sitasi internasional, dan kualitas peer review di tingkat global.
Publikasi di Sinta — terutama Sinta 4, 5, dan 6 — relatif lebih terjangkau untuk pemula. Persaingannya tidak sekeras Scopus, dan proses reviewnya lebih mudah diikuti. Sebaliknya, menembus jurnal Scopus membutuhkan persiapan yang jauh lebih matang: riset yang solid, penulisan akademik dalam bahasa Inggris yang baik, dan kesesuaian topik yang sangat spesifik.
Banyak jurnal Sinta yang tidak memungut biaya sama sekali, atau memungut biaya yang sangat terjangkau. Jurnal Scopus — khususnya yang bersifat Open Access — biasanya memungut Article Processing Charge (APC) yang bisa mencapai ribuan dolar AS. Namun banyak institusi dan lembaga penelitian di Indonesia menyediakan dana hibah untuk membiayai publikasi Scopus.
Menariknya, Sinta dan Scopus tidak sepenuhnya terpisah. Jurnal nasional Indonesia yang berhasil terindeks Scopus secara otomatis mendapatkan peringkat Sinta 1. Artinya, Sinta 1 adalah “irisan” antara jurnal nasional terbaik dan jurnal yang sudah diakui secara internasional.
Ini juga berarti: jika kamu berhasil publish di jurnal Scopus yang diterbitkan oleh institusi Indonesia, kamu sekaligus mendapat pengakuan di dua sistem sekaligus.
Jawabannya tergantung pada tujuan dan tahap kariermu saat ini.
Bagi kebanyakan peneliti Indonesia, strategi yang paling realistis adalah memulai publikasi dari jurnal Sinta terlebih dahulu — mulai dari Sinta 4–6 untuk pemula, naik ke Sinta 2–3, lalu secara bertahap menarget jurnal Scopus Q3–Q4, dan akhirnya Q1–Q2. Setiap tingkatan mengajarkan keterampilan berbeda yang akan berguna di level berikutnya.
Baca juga: Cara Cek Jurnal Terindeks Sinta dan Scopus
Sinta dan Scopus bukan kompetitor — keduanya saling melengkapi dalam ekosistem publikasi ilmiah Indonesia. Sinta memperkuat kualitas penelitian di tingkat nasional, sementara Scopus membuka pintu pengakuan global.
Pahami posisimu sekarang, pilih jurnal yang sesuai dengan tujuan dan kapasitasmu, dan terus tingkatkan kualitas tulisan dari satu level ke level berikutnya. Konsistensi dalam publikasi adalah kunci karier akademik yang kuat.
Baca juga: Cara Publikasi Jurnal Ilmiah Untuk Mahasiswa dan Dosen Terbaru | Mengenal Jurnal Predator dan Cara Menghindarinya | Cara Merespons Komentar Reviewer Jurnal