Mendapat email “Major Revision” atau “Minor Revision” dari editor jurnal bisa terasa menegangkan — apalagi jika komentar reviewer terasa keras atau banyak poin yang harus diperbaiki. Tapi jangan panik dulu.
Kabar baiknya: naskah kamu belum ditolak. Revision request justru sinyal bahwa artikelmu punya potensi untuk diterbitkan. Yang menentukan lolos atau tidaknya sekarang adalah bagaimana kamu merespons komentar reviewer tersebut.
Artikel ini membahas secara lengkap cara merespons komentar reviewer jurnal dengan benar — mulai dari memahami jenis keputusan review, menyusun response letter yang profesional, hingga contoh kalimat yang bisa langsung kamu gunakan. Cocok untuk jurnal nasional Sinta maupun jurnal internasional Scopus.
Baca juga: Cara Publikasi Jurnal Ilmiah Untuk Mahasiswa dan Dosen Terbaru
Table of Contents
ToggleSebelum mulai merespons, kenali dulu jenis keputusan yang kamu terima karena masing-masing membutuhkan pendekatan yang berbeda.
Artikel diterima tanpa revisi. Ini jarang terjadi, tapi bukan tidak mungkin — terutama jika naskah sudah sangat matang sebelum disubmit. Tidak ada yang perlu dilakukan selain menunggu proses produksi dari pihak jurnal.
Perbaikan ringan yang dibutuhkan: koreksi bahasa, penambahan referensi, klarifikasi kalimat tertentu, atau penyesuaian format. Ini sinyal sangat positif — secara substansi artikelmu sudah dinilai layak. Respons harus tetap profesional dan menjawab setiap poin dengan serius, meski terlihat kecil.
Perbaikan substansial diperlukan: metodologi perlu diperkuat, analisis perlu diperdalam, bagian tertentu perlu ditulis ulang, atau tambahan data/eksperimen diperlukan. Jangan berkecil hati — major revision masih berarti ada peluang besar untuk diterima jika responnya baik dan revisinya tuntas.
Artikel ditolak. Ada dua kemungkinan: reject permanen (artikel tidak bisa disubmit ulang ke jurnal yang sama) atau reject with invitation to resubmit (artikel bisa diperbaiki dan dikirim ulang). Baca email penolakan dengan teliti untuk memastikan mana yang berlaku.
Ini tips yang sering diabaikan tapi sangat penting. Saat menerima komentar reviewer — terutama yang terasa pedas atau tidak adil — tunggu setidaknya 24 jam sebelum mulai merespons.
Respons yang ditulis dalam kondisi emosional cenderung terkesan defensif, tidak profesional, dan justru bisa merugikan proses review. Baca semua komentar dari awal hingga akhir secara menyeluruh terlebih dahulu, pahami konteksnya, baru mulai menyusun rencana revisi.
Ingat: reviewer bukan musuhmu. Mereka adalah ahli di bidang yang sama yang meluangkan waktu (tanpa bayaran) untuk membaca dan mengevaluasi naskahmu. Komentar mereka, sepedas apapun, pada dasarnya bertujuan memperkuat artikelmu.
Response letter adalah dokumen yang dikirim bersama naskah revisi. Dokumen ini sering dianggap sepele, padahal editor biasanya membaca response letter lebih dulu sebelum membuka naskah revisi. Response letter yang baik bisa menjadi penentu keputusan akhir.
1. Pembuka (Opening)
Sampaikan terima kasih kepada editor dan reviewer atas waktu dan masukan yang diberikan. Gunakan nada yang hangat tapi tetap formal. Contoh:
“We would like to sincerely thank the Editor and the two anonymous reviewers for their thoughtful and constructive comments. Their feedback has helped us significantly improve the quality of the manuscript.”
2. Ringkasan Perubahan (Summary of Changes)
Jelaskan secara singkat perubahan besar yang telah kamu lakukan. Ini membantu editor mendapat gambaran sebelum menelaah detail respons per poin.
3. Respons per Reviewer
Pisahkan respons untuk Reviewer 1, Reviewer 2, dan seterusnya. Setiap komentar harus dijawab satu per satu — tidak ada yang boleh diabaikan.
4. Format per Komentar
Gunakan format yang konsisten untuk setiap poin:
5. Penutup (Closing)
Nyatakan bahwa revisi yang dilakukan telah memperkuat kualitas naskah dan sampaikan harapan agar naskah dapat diterima.
Komentar Reviewer 1, Poin 2:
“Metode analisis data yang digunakan kurang dijelaskan. Penulis perlu memperjelas alasan pemilihan metode regresi logistik dan bagaimana asumsi-asumsinya dipenuhi.”
Jawaban Penulis:
Kami mengucapkan terima kasih atas masukan yang sangat konstruktif ini. Kami telah menambahkan penjelasan mengenai alasan pemilihan metode regresi logistik beserta pemeriksaan asumsi (uji multikolinearitas, uji Hosmer-Lemeshow, dan kurva ROC) pada bagian Metode, halaman 6, paragraf 3. Perubahan ini juga telah ditandai dengan track changes pada naskah yang dilampirkan.
Comment R1.2:
“The sample size justification is not provided. The authors should explain why 120 respondents are sufficient for this study.”
Response A1.2:
Thank you for raising this important point. We have added a sample size justification in the Methods section (p. 5, paragraph 2), citing Hair et al. (2019) who recommend a minimum of 10 observations per variable for PLS-SEM. With 8 variables and 120 respondents, our sample exceeds this threshold. The addition is highlighted in the revised manuscript.
Ini yang paling mudah ditangani. Reviewer tidak memahami bagian tertentu dan meminta penjelasan lebih lanjut. Cukup perjelas bagian tersebut di naskah dan jelaskan perubahannya di response letter.
Contoh kalimat pembuka respons: “Thank you for this comment. We have revised the paragraph to make it clearer…”
Jika memungkinkan, lakukan analisis tambahan yang diminta dan tambahkan hasilnya di naskah. Jika tidak memungkinkan (misalnya karena keterbatasan data), jelaskan alasannya secara ilmiah dan tandai sebagai keterbatasan penelitian.
Boleh tidak setuju — asalkan disertai argumen ilmiah yang kuat dan referensi yang mendukung. Hindari kata-kata seperti “tidak relevan” atau “salah” secara langsung. Gunakan pendekatan yang diplomatik:
“We respectfully disagree with this suggestion. The approach we adopted follows [Nama Peneliti, Tahun], which has been widely used in similar studies. We believe this method is more appropriate for our research context because…”
Atau versi bahasa Indonesia:
“Kami memahami kekhawatiran yang disampaikan. Namun, pendekatan yang kami gunakan merujuk pada metode yang telah divalidasi oleh [Nama Peneliti, Tahun] dan dianggap paling sesuai untuk konteks penelitian ini karena…”
Ini cukup umum terjadi, terutama jika ada dua atau lebih reviewer. Sampaikan situasinya kepada editor secara transparan di response letter dan jelaskan keputusan yang kamu ambil beserta alasannya.
Gunakan checklist ini sebelum menekan tombol submit revisi:
Merespons komentar reviewer adalah seni tersendiri dalam publikasi jurnal ilmiah. Kuncinya ada pada tiga hal: profesionalisme, sistematis, dan kesabaran.
Jawab setiap komentar dengan serius, susun response letter yang terstruktur, dan jangan ragu untuk berargumen secara ilmiah jika kamu tidak setuju. Semakin sering kamu menghadapi proses ini, semakin terasah kemampuan akademik dan komunikasi ilmiahmu.
Semoga naskahmu segera diterima! 🎉
Baca juga: Cara Publikasi Jurnal Ilmiah Untuk Mahasiswa dan Dosen Terbaru| Cara Submit Artikel ke OJS | Tips Artikel Jurnal Cepat Diterima