Tinjauan pustaka adalah salah satu bagian yang paling sering ditulis dengan cara yang salah. Banyak penulis pemula yang menganggap tinjauan pustaka cukup dengan mendaftar penelitian orang lain satu per satu. Padahal, tinjauan pustaka yang baik jauh lebih dari sekadar daftar — ia adalah sintesis yang menunjukkan kemampuan berpikirmu sebagai peneliti.
Baca juga: Cara Menulis Artikel Jurnal Ilmiah
Table of Contents
ToggleTinjauan pustaka (literature review) adalah analisis kritis dan sistematis terhadap penelitian-penelitian yang sudah ada yang relevan dengan topik penelitianmu. Fungsinya bukan hanya menunjukkan bahwa kamu sudah membaca banyak referensi, tapi membuktikan bahwa kamu memahami lanskap penelitian di bidangmu dan bisa mengidentifikasi posisi penelitianmu dalam konteks yang lebih luas.
Ini kesalahpahaman yang sangat umum di kalangan penulis pemula:
Keduanya berbeda fungsi dan posisinya dalam artikel. Baca: Cara Menulis Daftar Pustaka: APA, IEEE, dan Vancouver
Gunakan database akademik terpercaya: Google Scholar, Scopus, Web of Science, atau DOAJ. Prioritaskan artikel dari jurnal terindeks yang diterbitkan dalam 5 tahun terakhir. Buat daftar kata kunci pencarian dan kombinasikan untuk hasil yang lebih komprehensif.
Jangan hanya membaca abstrak. Baca artikel secara utuh dan catat: pertanyaan penelitian, metode, temuan utama, dan keterbatasan. Gunakan software manajemen referensi seperti Mendeley atau Zotero untuk mencatat dan mengorganisir sumber.
Setelah membaca cukup banyak sumber, kamu akan mulai melihat pola — penelitian yang sepakat, yang bertentangan, atau yang mengisi celah satu sama lain. Kelompokkan sumber berdasarkan tema, bukan berdasarkan kronologi atau nama pengarang.
Ini perbedaan paling penting. Tinjauan pustaka yang baik tidak hanya meringkas setiap artikel satu per satu, tapi mensintesisnya — membandingkan, mengontraskan, dan menghubungkan temuan dari berbagai sumber.
Hindari: “Penelitian A menemukan X. Penelitian B menemukan Y. Penelitian C menemukan Z.”
Gunakan: “Beberapa penelitian menunjukkan bahwa X [A, B], meski C menemukan hasil yang berbeda dalam konteks Y, kemungkinan karena perbedaan metodologi…”
Di akhir tinjauan pustaka, nyatakan secara eksplisit gap yang penelitianmu isi. Ini menjadi jembatan antara tinjauan pustaka dan tujuan penelitian.
Ada dua cara mengorganisir tinjauan pustaka:
Tinjauan pustaka yang baik adalah bukti kemampuanmu sebagai peneliti, bukan sekadar daftar bacaan. Investasikan waktu yang cukup untuk membaca, mensintesis, dan menulis bagian ini dengan baik — reviewer pasti memperhatikannya.
Baca juga: Cara Menulis Pendahuluan Jurnal | Cara Menulis Daftar Pustaka
Hoby Menulis, dan Suka Riset Sesuatu. Lets Grow Bro